Translate

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juli 2012

SEJARAH WARKOP DKI


WARKOP PRAMBORS “TO” WARKOP DKI

Sedih dan menangis jika harus melihat kembali lawakan, lagu, film, tak menyangka takdir Allah berbicara lain, mereka harus terpisah hingga waktu yang sangat lama.
Yang namanya persahabatan seperti jodoh juga, dan ternyata persahabatan mereka hinga SEHIDUP SEMATI, salut buat mereka WARKOP DKI pnatas sekali  menjadi legenda indonesia
Warkop atau sebelumnya Warkop Prambors, juga kemudian dikenal sebagai Trio DKI adalah grup lawak yang dibentuk oleh Nanu (nama asli Nanu Mulyono), Rudy Badil, Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro), Nanu, Rudy, Dono dan Kasino adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta sedangkan Indro kuliah di Universitas Pancasila Jakarta. Mereka pertama kali meraih kesuksesan lewat acara Obrolan Santai di Warung Kopi yang merupakan garapan dari Temmy Lesanpura, Kepala Bagian Programming Radio Prambors. Acara lawakan setiap Jumat malam antara pukul 20.30 hingga pukul 21.15, disiarkan oleh radio Prambors yang bermarkas di kawasan Mendut, Prambanan, Borobudur, alias Menteng Pinggir.
Dalam acara itu, Rudi Badil dalam obrolan sering berperan sebagai Mr. James dan Bang Cholil. Indro yang berasal dari Purbalingga berperan saebagai Mastowi (orang Tegal), Ubai (orang Ansori). Kasino yang asli Gombong perannya bermacam-macam: Mas Bei (orang Jawa), Acing/Acong (orang Tionghoa), dan Buyung (orang Padang). Nanu yang asli Madiun sering berperan sebagai Tulo (orang Batak). Dono sendiri hanya berperan sebagai Mas Slamet (orang Jawa).
Ide awal obrolan Warkop Prambors berawal dari dedengkot radio Prambors, Temmy Lesanpura. Radio Prambors meminta Hariman Siregar, dedengkot mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors. Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini. Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu, dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro.
Rudy yang semula ikut Warkop saat masih siaran radio, tak berani ikut Warkop dalam melakukan lawakan panggung, karena demam panggung (stage fright). Untuk hal itu, Rudy mengaku “Pernah sekali saya coba di panggung TIM, saya menyadari bahwa saya tidak mampu. Setelah itu ya nggak usah saja,”
Dono pun awalnya saat manggung beberapa menit pertama mojok dulu, karena masih malu dan takut. Setelah beberapa menit, barulah Dono mulai ikut berpartisipasi dan mulai kerasan, hingga akhirnya terus menggila hingga akhir durasi lawakan. Indro adalah anggota termuda, saat anggota Warkop yang lain sudah menduduki bangku kuliah, Indro masih pelajar SMA.
Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan (kalau sekarang prom nite) SMP IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Semua personil gemetar, alias demam panggung, dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, tidak terlalu sukses. Namun peristiwa di tahun 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor yang berupa uang transport sebesar Rp 20.000. Uang itu dirasakan para personil Warkop besar sekali, namun akhirnya habis untuk menraktir makan teman-teman mereka.
Berikutnya mereka manggung di Tropicana. Sebelum naik panggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, tapi ternyata hasilnya kembali lumayan.
Baru pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), grup Warkop Prambors baru benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia. Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tetapi juga membantu memperkenalkan grup PSP (Pancaran Sinar Petromaks), yang bertetangga dengan Warkop. Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar Rp 1.000.000 per pertunjukan atau dibagi empat orang, setiap personil mendapat no pek go ceng (Rp 250.000).
Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono-Kasino-Indro atau DKI (yang merupakan pelesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota). Ini karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri. Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, maka mereka harus mengirim royalti kepada Radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors. Maka itu kemudian mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, untuk menghentikan praktek upeti itu.
Dari semua personil Warkop, mungkin Dono lah yang paling intelek, walau ini agak bertolak belakang dari profil wajahnya yang ‘ndeso’ itu. Dono bahkan setelah lulus kuliah menjadi asisten dosen di FISIP UI tepatnya jurusan Sosiologi. Dono juga kerap menjadi pembawa acara pada acara kampus atau acara perkawinan rekan kampusnya. Kasino juga lulus dari FISIP. Selain melawak, mereka juga sempat berkecimpung di dunia pencinta alam. Hingga akhir hayatnya Nanu, Dono, dan Kasino tercatat sebagai anggota pencinta alam Mapala UI.
Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Dari filmlah para personil Warkop mulai meraup kekayaan berlimpah. Dengan honor Rp 15.000.000 per satu film untuk satu grup, maka mereka pun kebanjiran uang, karena hampir tiap tahun mereka membintangi satu film di dekade 1980-an. Malah beberapa tahun ada dua film Warkop sekaligus.
Kelebihan Warkop dibandingkan grup lawak lain, adalah tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya. Karena sebagian besar adalah mahasiswa (yang kemudian beberapa menjadi sarjana), maka mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dan pengembangan diri kelompok mereka.
Ini dilihat dari keseriusan mereka membentuk staf yang tugasnya membantu mereka dalam mencari bahan lawakan. Salah satu staf Warkop ini kemudian menjadi pentolan sebuah grup lawak, yaitu Tubagus Dedi Gumelar alias Miing Bagito.
Saat itu Miing mengaku bahwa ia ingin sekali menjadi pelawak, dan kebetulan ia diterima menjadi staf Warkop. Kerjanya selain mengumpulkan bahan lawakan, melakukan survei lokasi (di kota atau daerah sekitar tempat Warkop akan manggung), kalau perlu melakukan pekerjaan pembantu sekalipun seperti menyetrika kostum para personil Warkop. Ini dilakukan Miing dengan serius, karena ia sadar disinilah pembelajaran profesionalitas sebuah kelompok lawak. Miing sempat ikut dalam kaset warkop dan film warkop, sebelum akhirnya membentuk kelompok lawak sendiri bersama Didin (saudaranya) dan Hadi Prabowo alias Unang yang diberi nama Bagito (alias Bagi Roto).
Dalam era televisi swasta dan menurunnya jumlah produksi film, DKI pun lantas memulai serial televisi sendiri. Serial ini tetap dipertahankan selama beberapa lama walaupun Kasino tutup usia di tahun 1997. Setelah Dono juga meninggal di tahun 2001, Indro menjadi satu-satunya personel Warkop. Sedangkan Nanu sudah meninggal lebih lama karena sakit liver dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.
Diskografi (kaset)
* Kaset 01 Cangkir Kopi (warkop Live di Palembang/Plaju, masih ada Nanu)
* Kaset 02 Tenda Warung
* Kaset 03 Mana Tahan
* Kaset 04 Gerhana Asmara (bersama Srimulat)
* Kaset 05 Pengen Melek Hukum (Indro sebagai mahasiswa penyuluh hukum, Kasino, Dono sebagai warga)
* Kaset 06 Pokoknya Betul – Ke Bali (Dono dan Indro pengen ke Bali, tanya ke Kasino yang orang Bali)
* Kaset 07 Semua Bisa Diatur – Lurah Indro (Indro sebagai Lurah, Dono dan Kasino sebagai warga, featuring Mi’ing sebagai rakyat / petugas RSJ)
* Kaset 08 Dokter Masuk Desa (Indro sebagai dokter baru masuk desa, dono dan kasino sebagai warga)
* Kaset 09 Makin Tipis Makin Asik (Indro sebagai pak Guru, Kasino dan Dono sebagai murid-murid)
Filmografi
Beberapa Poster Film Warkop DKI
Kebanyakan film Warkop tidak dapat diedarkan secara internasional karena masalah pelanggaran hak cipta, yaitu digunakannya musik oleh komponis Henry Mancini tanpa izin atau mencantumkan namanya dalam film.
* Mana Tahaaan… (1979) bersama Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi
* Gengsi Doong (1980) bersama Camelia Malik
* Pintar Pintar Bodoh (1980) bersama Eva Arnaz, Debby Cynthia Dewi, Dorman Borisman, dan Dana Christina
* GeEr – Gede Rasa (1980) bersama Dorman Borisman, Ita Mustafa, dan Itje Trisnawati
* Manusia 6.000.000 Dollar (1981) bersama Eva Arnaz dan Dorman Borisman
* IQ Jongkok (1981) bersama Enny Haryono, Marissa Haque, dan Alicia Djohar
* Setan Kredit (1981) bersama Minati Atmanegara dan Alicia Djohar
* Dongkrak Antik (1982) bersama Meriam Bellina, Mat Solar, dan Pietrajaya Burnama
* Chips (1982) bersama Sherly Malinton, Tetty Liz Indriati dan Chintami Atmanegara
* Maju Kena Mundur Kena (1983) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou, Us Us
* Pokoknya Beres (1983) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou, Us Us, dan Nourma Yunita
* Itu Bisa Diatur (1984) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka, dan Aminah Cendrakasih
* Tahu Diri Dong (1984) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou, Aminah Cendrakasihh, Wieke Widowati dan Us Us.
* Kesempatan Dalam Kesempitan (1985) bersama Lydia Kandou, Nena Rosier, Leily Sagita, Lia Warokka, Lina Budiarti, Kaharuddinsyah, dan Fanny Bauty.
* Gantian Dong (1985) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka, Chintami Atmanegara, Lelly Sagita, Wieke Widowati, dan Advent Bangun
* Atas Boleh Bawah Boleh (1986) besama Eva Arnaz, Dian Nitami, dan Wolly Sutinah
* Sama Juga Bohong (1986) bersama Ayu Azhari, Nia Zulkarnaen, dan Chintami Atmanegara
* Depan Bisa Belakang Bisa (1987) bersama Eva Arnaz dan HIM Damsyik
* Makin Lama Makin Asyik (1987) bersama Meriam Bellina dan Timbul
* Saya Suka Kamu Punya (1987) bersama Doyok
* Jodoh Boleh Diatur (1988) bersama Raja Ema, Silvana Herman, Yurike Prastika, Ira Wibowo, dan Nia Zulkarnaen
* Malu-Malu Mau (1988) bersama Nurul Arifin dan Sherly Malinton
* Godain Kita Dong (1989) bersama Liza Patzy, Ida Kusumah dan Tarsan
* Sabar Dulu Doong…! (1989) bersama Anna Sherley dan Eva Arnaz
* Mana Bisa Tahan (1990) bersama Nurul Arifin dan Sally Marcellina
* Sudah Pasti Tahan (1991) bersama Nurul Arifin dan Sally Marcellina
* Bisa Naik Bisa Turun (1991) bersama Kiki Fatmala dan Sally Marcellina
* Lupa Aturan Main (1991) bersama Eva Arnaz, Fotunella, Hengky Solaiman
* Masuk Kena Keluar Kena (1992) bersama Kiki Fatmala, Fortunella dan Sally Marcellina
* Salah Masuk (1992) bersama Gitty Srinita dan Angel Ibrahim
* Bebas Aturan Main (1993) bersama Lella Anggraini, Gitty Srinita dan Diah Permatasari
* Bagi-Bagi Dong (1993) bersama Kiki Fatmala dan Inneke Koesherawati
* Saya Duluan Dong (1994) bersama Diah Permatasari, Gitty Srinita, dan HIM Damsyik
* Pencet Sana Pencet Sini (1994) bersama Sally Marcellina dan Taffana Dewi
Kutipan (Film)
* Dono : “Sanwani Betawi gemblung!!!”
* Kasino : “Muke apa bemo mas?”
* Indro : “Ngaku tinggal di Menteng…Mentengnya mana saya juga gk tahu…Menteng Pulo kali situ kuburan.”
* Kasino : “Der is a tikusto ander de tebelto?…Astagfirulloo…!!!” (There is a tikus under the table? Astagfirullah…)
* Dono : “Plis luking-luking en abisin tuh duit! (Please have a look and spend your money)
* Nanu : Muka kao mirip dengan sebuah kendaraan !!
* Dono : ” Memang banyak yang bilang.. Wajah saya mirip Dengan mercy Tiger “
* Dono : “Kitakan kerja sosial. So-nya buat kita. sial-nya buat mereka berdua, Kasino sama Indro “
Acara TV
Warkop Millennium adalah sebuah sinetron di televisi yang menampilkan Warkop bersama Karina Suwandi dan Roweina Umboh.
* Indro Berperan sebagai dirinya sendiri dengan peran istri oleh Karina Suwandi
* Kasino Berperan sebagai dirinya sendiri dengan peran istri Roweina Umboh
* Dono Berperan sebagai kakak dari Karina Suwandi sekaligus iparnya dari Indro
* Kasino dan Roweina adalah tetangga dari Indro, Karina, dan Dono
Continue lendo

Selasa, 24 Juli 2012

SEJARAH CARLY CHAPLIN DAN KATA-KATA BIJAK CARLY CHAPLIN

SEJARAH CARLY CAPLIN DAN KATA-KATA BIJAK CARLY CALPIN


Sebagai komedian dan tokoh yang tercatat dalam sejarah perfilman dunia, Charlie Chaplin banyak menghasilkan karya master piece. Satu di antaranya adalah film komedi "The Great Dictator". Sebuah satire terhadap "kebuasan" Nazi Jerman di bawah kekuasaan Adolf Hitler.

The Great Dictator sendiri adalah film berdialog pertama Charlie Chaplin (sebelumnya hanya film bisu). Ide membuat film itu sendiri muncul secara tak sengaja, terkait dengan sikap Nazi yang mendeskreditkan filmnya di Jerman.

Suatu kali Charlie Chaplin membaca berita di sebuah suratkabar mengenai pelarangan Nazi terhadap film Charlie Chaplin diputar di wilayah Jerman. Alasannya tak lain karena sosok Charlie Chaplin dinilai sangat mirip dengan Hitler dan kekonyolannya dianggap semacam penghinaan terhadap penguasa Jerman itu.

Charlie Chaplin tersenyum membaca berita itu. Ia menyadari bahwa sosoknya dalam film komedi sebagai "the tramp" memang sangat mirip dengan Hitler: kumis lurus tipis, potongan rambut dan raut wajah.

Anehnya, tanggal lahir Charlie dan Hitler juga sama hanya selisih beberapa hari. Adolf Hitler lahir pada 20 April 1889, sementara Charlie Chaplin 16 April 1889. Keduanya bernaung pada zodiak Aries. Bedanya Hitler menimbulkan bencana besar pada jutaan manusia, sementara Chaplin membawa tawa bahagia pada jutaan manusia.

Hmmm, setelah merenung sekian lama,
CARLY CHAPLIN tertantang untuk menggarap sebuah film yang benar-benar mengkritik Nazi dan Adolf Hitler. Ia kemudian melakukan riset dan penelitian terhadap karakter Hitler. Riset yang lama melalui data-data literatur dan film-film dokumenter yang berkaitan dengan Hitler dan perkembangan Nazi.

Selain itu Chaplin juga menghayati karakter Hitler dan meniru semua detail tingkah laku dan sikap Hitler, sambil menuliskan naskah film yang menyindir sang "fuhrer" itu.
Setelah yakin bisa menyerupai Hitler dan naskah selesai dikerjakan, barulah Chaplin memulai syuting. Dalam film itu ia memerankan dua karakter tokoh. Satu sebagai veteran pahlawan PD I yang akhirnya menjadi tukang cukur berkebangsaan Yahudi, dan satu lagi sebagai diktator Tomania, Adenoid Hynkel. Tomania adalah plesetan untuk Nazi Jerman sedangkan Adenoid Hynkel adalah plesetan Adolf Hitler.

Film The Great Dictator akhirnya dirilis tahun 1940. Tepat saat Perang Dunia II berkecamuk dan Nazi sedang di atas angin. Proses pembuatan film itu memakan waktu 2 tahun dan menghabiskan dana 2 juta Dollar AS.

Film ini sendiri berkisah tentang situasi politik dan kediktatoran Adenoid Hynkel yang anti Yahudi dan ingin menguasai dunia.

Situasi yang tergambar dalam film ini persis dengan perkembangan partai Nazi di Jerman dan mimpi-mimpi Hitler untuk menguasai dunia serta pemusnahan kaum Yahudi di era PD II. Namun Charlie Chaplin dibuat dalam bentuk komedi yang sungguh memikat.

Film ini memang memancing kemarahan Nazi, namun disambut publik dengan luar biasa.

Film-film Karya Charlie Chaplin
Charlie Chaplin tercatat dalam sejarah film sebagai tokoh film komedi yang mashyur. Dia adalah peraih dua Oscar saat piala Oscar pertama kali dianugerahkan pada insan film pada 16 Mei 1926.

Chaplin berhasil meraih nominasi Oscar sebagai Aktor Terbaik dan Pengarah Komedi Terbaik dalam film garapannya "The Circus" (1928). Dan penghargaan berikutnya kembali diraihnya 44 tahun kemudian (1972), sebagai tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk tetap bergelut dalam dunia perfilman dan seni.

Ia juga pernah mendapat penghargaan sebagai seniman yang mampu menarik perhatian besar dan kekaguman publik paling lama dengan tepuk tangan terpanjang selama 5 menit dalam sejarah Academy Award. Dan master piece-nya The Great Dictator (1940) meraih sukses dengan nominasi Best Picture, Best Actor, dan Best Original Screenplay. Dan penghargaan Best Original Screenplay lagi untuk filmnya Monsiur Verdoux (1947).

Masih banyak lagi karya filmnya yang mendapat berbagai penghargaan. Dua film-nya yang terakhir adalah garapannya di London yakni A King in New York (1957) dan A Countess From Hong Kong (1967). Sebelumnya ia juga ada menggarap komedi A Dog's Life (1918), Pay Day (1922), Shoulder Arms (1918), The Pilgrim (1923), The Kid (1921), A Woman of Paris (1923), The Gold Rush (1925), The Circus (1928), City Lights (1931), Modern Times (1931). Sementara untuk film berdialog dibuatnya di Hollywood yakni The Great Dictator (1940), Monsiur Verdoux (1947), dan Limelight (1952).

Akhirnya Charlie Chaplin wafat saat perayaan Hari Natal, 25 Desember 1977, di Vevey, Swiss, pada usia 88 tahun. Ia wafat karena terserang stroke. Jenazahnya dimakamkan di Corsier Sur Vevey Cemetry. Namun pada 1 Maret 1978, tulang belulangnya digali dan dicuri oleh sekelompok mekanik yang meminta tebusan uang kepada keluarganya. "Penculikan" kerangka itu digagalkan polisi dan 11 minggu kemudian jenazah Charlie Chaplin dimakamkan untuk kedua kali di dekat Danau Geneva.

Charlie Chaplin selalu dikenang sebagai komedian jenius, pribadi yang kontroversial, humor-humor slapstik, dan orang film yang penuh dedikasi. Ia adalah entertainer dan seniman sejati, yang mampu mengundang decak kagum, tangis dan tawa pada waktu yang bersamaan.

KATA-KATA BIJAK CHARLY CHAPLIN
Berikut Ini Kata” Bijak Darinya
A day without laughter is a day wasted.
Charlie ChaplinA man’s true character comes out when he’s drunk.
Charlie Chaplin
A tramp, a gentleman, a poet, a dreamer, a lonely fellow, always hopeful of romance and adventure.
Charlie Chaplin
Actors search for rejection. If they don’t get it they reject themselves.
Charlie Chaplin
All I need to make a comedy is a park, a policeman and a pretty girl.
Charlie Chaplin
All my pictures are built around the idea of getting in trouble and so giving me the chance to be desperately serious in my attempt to appear as a normal little gentleman.
Charlie Chaplin
Brunettes are troublemakers. They’re worse than the Jews.
Charlie Chaplin
Despair is a narcotic. It lulls the mind into indifference.
Charlie Chaplin
Dictators free themselves, but they enslave the people.
Charlie Chaplin
Failure is unimportant. It takes courage to make a fool of yourself.
Charlie Chaplin
I am at peace with God. My conflict is with Man.
Charlie Chaplin
I am for people. I can’t help it.
Charlie Chaplin
I do not have much patience with a thing of beauty that must be explained to be understood. If it does need additional interpretation by someone other than the creator, then I question whether it has fulfilled its purpose.
Charlie Chaplin
I don’t believe that the public knows what it wants; this is the conclusion that I have drawn from my career.
Charlie Chaplin
I had no idea of the character. But the moment I was dressed, the clothes and the make-up made me feel the person he was. I began to know him, and by the time I walked onto the stage he was fully born.
Charlie Chaplin
I have no further use for America. I wouldn’t go back there if Jesus Christ was President.
Charlie Chaplin
I remain just one thing, and one thing only, and that is a clown. It places me on a far higher plane than any politician.
Charlie Chaplin
I suppose that’s one of the ironies of life doing the wrong thing at the right moment.
Charlie Chaplin
I thought I would dress in baggy pants, big shoes, a cane and a derby hat. everything a contradiction: the pants baggy, the coat tight, the hat small and the shoes large.
Charlie Chaplin
I went into the business for the money, and the art grew out of it. If people are disillusioned by that remark, I can’t help it. It’s the truth.
Charlie Chaplin
We think too much and feel too little.
Charlie Chaplin
Continue lendo
 

Mr.Pocong Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates